Dan Harta Karun Ir. Soekarno Senilai 36.000.000.000.000
Kali
ini blog mymisteri akan mengshare misteri yang sudah dipesan sama
anggota grup blog ini, bagi anda yang mau bergabung silahkan menuju link
ini https://www.facebook.com/groups/243510445786581/
Harta Karun Bung Karno merupakan misteri yang selalu menarik minat
banyak orang, karena masih saja banyak yang yakin bahwa harta karun
peninggalan raja-raja jaman dahulu betul-betul diwariskan kepada
Presiden Pertama RI alm Soekarno.
Berikut adalah pencarian tak kenal lelah team kami untuk mengusut misteri dari Harta Karun Bung Karno tersebut.
Klaim tentang harta peninggalan Presiden RI pertama Soekarno mungkin
sudah sering kita dengar. Namun setelah diusut, pengakuan seperti itu
hanya omong kosong belaka. Pada bulan Januari 2011, klaim serupa muncul
dari daerah Bolaang Mongondow, wilayah Sulawesi Utara. Terdapat seorang
kakek yang mengaku mempunyai emas batangan dan surat berharga (obligasi)
kekayaan Negara Republik Indonesia. Benda-benda berharga itu, menurut
sang kakek, tersimpan di sebuah bank di Swiss.
Nama kakek itu
ialah Zakaria Sukaria Pota, yang menurut beliau juga dirinya sekarang
sudah berusia 126 tahun. Bagi warga setempat, nama Zakaria Sukaria Pota
mengandung arti 'Berubah-ubah Wajah'. untuk membuktikan klaimnya kakek
Zakaria menunjukkan pedang serta pisau terbuat dari emas dan empat buah
emas batangan. Diperlihatkan juga tongkat komando, yang oleh kakek
Zakaria, diakui milik almarhum Presiden Soekarno.
Tak hanya itu,
Kakek Zakaria mengklaim memiliki obligasi yang distempel Garuda dengan
tinta emas. Adapun nilainya menurut Mr, Zakaria, mencapai triliunan
rupiah. Obligasi itu sudah siap dicairkan di sebuah Bank Internasional.
Surat berharga itu tersimpan di dalam pedang panjang yang panjangnya
dua meter dan terbuat dari emas. Zakaria sukaria Pota mengaku mendapat
kuasa langsung Sang Proklamator untuk mencairkan uang tersebut di bank
di Swiss untuk kemudian supaya langsung diberikan kepada negara.
Kakek Zakaria bersedia menunjukkan benda berharga peninggalan Sukarno
yang lain berupa batangan-batangan logam mulia, emas dan senjata.
Kesemua harta karun itu asal muasalnya adalah peninggalan Jepang.
Zakaria pernah tinggal di Istana zaman presiden Soekarno masih memimpin
negeri ini, tuturnya. Benda-benda pribadi peninggalan Bung Karno
diantaranya ialah tongkat komando, keris, batangan emas, dan telur, baju
panglima Soekarno serta tusuk konde Ibu Fatmawati, istri Presiden
Pertama RI Soekarno.
Kawasan Pancoran kini menjadi salah satu
titik kemacetan di Ibu kota Jakarta. Pada jam tertentu, kemacetan di
persimpangan ini seolah mengunci dan sulit diurai.
Kemacetan yang
saling mengunci membuat lampu merah yang ditempatkan di perempatan
tersebut seolah tak berguna. Saat lampu hijau pun kendaraan terkadang
tetap tidak melintas karena jalan tertutup kendaraan dari arah lain.
Begitulah kemacetan yang terjadi di bawah patung Pancoran.
Namun
di balik kemacetannya yang berada di bawahnya, patung Pancoran
menyimpan banyak cerita. Salah satunya desas-desus patung Pancoran
menunjuk lokasi harta karun Soekarno. Benarkah?
Patung Pancoran
sebenarnya adalah Monumen Patung Dirgantara. Dinamakan Pantung Pancoran
karena letak monumen ini berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Kawasan tersebut dahulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara.
Posisi strategis karena merupakan pintu gerbang menuju Jakarta bagi para
pendatang yang baru saja mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma.
Ide pertama pembuatan patung adalah dari Presiden Soekarno yang
menghendaki agar dibuat sebuah patung tentang dunia penerbangan
Indonesia atau kedirgantaraan. Patung ini menggambarkan manusia angkasa
yang menggambarkan semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah
angkasa raya.
Beberapa sumber menyebut bahwa pembiayaannya
patung berasal dari kantong pribadi Bung Karno. Bung Karno menjual
sebuah mobil pribadinya untuk biaya pembuatan patung Pancoran.
Versi lain menyebut pembangunan patung ini sempat terhenti karena
kekurangan dana, lalu Soekarno rela menjual mobilnya demi berdirinya
Patung Dirgantara di Pancoran.
Tak hanya membiayai, proses
pemasangan Patung Dirgantara juga selalu ditunggui oleh Bung Karno.
Bahkan kehadiran Bung Karno selalu merepotkan aparat negara yang
bertugas menjaga keamanan sang kepala negara. Kehadiran Bung Karno juga
merepotkan para pekerja.
Bung Karno pun detail memperhatikan
setiap pembangunan patung. Termasuk arah patung. karena hal ini kemudian
muncul kabar Soekarno punya rencana tersendiri atas patung Dirgantara.
Soekarno dikabarkan menyimpan harta karun di suatu tempat dan lokasi itu
ditunjukan oleh patung perunggu tersebut.
Patung Dirgantara
sendiri menghadap ke utara dengan tangannya mengacung ke bekas Bandar
Udara Internasional Kemayoran. Lalu apakah di sana Soekarno menyimpan
harta karunnya? Hingga kini kabar tersebut baru sebatas kabar burung.
Patung Dirgantara yang terbuat dari bahan perunggu dengan berat patung
11 ton hingga kini masih berdiri kokoh. Tinggi patung 11 meter,
sementara tinggi voetstuk atau kaki patung 27 meter. Proyek
pembangunannya dikerjakan oleh PN Hutama Karya dengan IR Sutami sebagai
arsitek pelaksana
HARTA karun peninggalan mantan presiden
Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya.
Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana
Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk
memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.
Namun
lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo
Soekarno mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu.
Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat
deposito obligasi garansi, dan lain-lain. ”Ini baru sampel dan silakan
mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung,” katanya, Jumat
kemarin, kepada pers.
Mantan anggota TNI yang dahulu bernama
Suwito itu sengaja mengundang wartawan di rumahnya, Perumahan Cileungsi
Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi, untuk menyaksikan temuannya. Di
rumahnya yang cukup megah disiapkan hidangan layaknya orang hajatan.
Maklum, Goroyo, begitu dia biasa disapa, juga mengundang Pangdam Jaya,
Kapolda, dan anggota Muspida. Tetapi dari mereka, tak ada pejabat
datang.
Kepada tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti
besar berisi ratusan keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons
bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu
sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum)
juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey
London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.
Meskipun bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu
tidak dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa
memastikan asli atau tidak harta benda tersebut.
Memberi Kuasa
Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945
yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan
di suatu tempat.Adapula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel
dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan
”Hibah Substitusi” yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).
Yang terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa
kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di
Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit
di JBS, Jenewa, dan dua buah koin. Di dalam sertifikat itu disebutkan,
ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.
”Insya Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno
ini bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya,” ungkap
Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah
berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. ”Semua saya
lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita,” tegasnya.
Saat
mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya
terpampang spanduk putih bertulisan merah, ”Satrio Piningit Soenuso
Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia.”
Namun wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai
shalat jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip
yang dikenakan Presiden Soekarno.
Di ruang tamunya juga dipajang
foto dirinya bersama seorang jenderal.Adapula yang memperlihatkan saat
dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia
enggan membeberkan latar belakang jati dirinya. ”Saya ini orang susah.
Jadi tentara pangkatnya juga di sini (memegang lengannya). Jika saya
pakai pakaian seperti ini, hanya model. Kebetulan saya suka,” tuturnya.
Proses Pencarian
Goroyo mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta
temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan
diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. ”Saya tidak ingin
imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat
kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan
Kapolri berhalangan.”
Dia menceritakan proses pencarian harta
tersebut. Diawali dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat,
lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat
yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian
disimpannya hingga kini.
Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara
gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa
Tengah, dan Sumatera Selatan. ”Meskipun benda ini kini nyata, tapi
awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib.
Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada
negara untuk menyelamatkan bangsa,” paparnya.
Ketika disinggung,
kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung menyerahkan
kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai berhubungan
dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden Megawati, tapi tidak
digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art Harus Putri Osa,
Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan juga dilaporkan
kepada anggota DPR Permadi SH.
Namun semua seperti tidak
menghiraukannya. ”Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk
menyaksikan langsung,” ujar Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria
piningit dirinya mengemban tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria
itu dia jelaskan, tidak ada kaitannya dengan ramalan yang pernah
diucapkan Permadi bahwa negeri ini akan dipimpin satria piningit.
Harta Karun Soekarno , Akhirnya Ditemukan Juga
GW sengaja menulis judul sedikir merangsang adrenalin kita sebagai
manusia dengan kata pembuka “Harta Karun”. Padahal maksudnya sih kiasan
saja sebagai suatu ungkapan metaforik analitik setelah menyusuri sejarah
Bangsa Indonesia. Judul aslinya adalah “Bangsa Indonesia dan Harta
Karun Soekarno”. Membaca tulisan ini, Anda boleh percaya dan boleh juga
tidak. Tidak ada paksaan dalam membaca. Tapi mulailah berpikir dan
merenungkannya.
Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan
dengan berita mengejutkan tentang Harta Karun Warisan Presiden Soekarno
yang disebut-sebut berupa emas, perak yang sangat berharga dan khabarnya
dapat membayar seluruh hutang Bangsa Indonesia. Isu dan kisah harta
warisan Soekarno pun bergulir. Korbannya tak tanggung-tanggung “Seorang
Menteri Agama era Megawati” mengacak-ngacak situ purbakala di Bogor.
Amarah dan cemooh pun bermunculan karena kenaifan, kedunguan, ketamakan
dan keserakahan si menteri yang belakangan diseret pengadilan karena
kasus korupsi “Dana Abadi Umat”. Semenjak peristiwa yang memalukan di
Bogor itu kisah harta karun peninggalan Soekarno masih terdengar
beberapa waktu kemudian. Klaim-klaim masih bermunculan, umumnya dari
dukun dan paranormal. Namun pelan-pelan kisah harta itu pun kemudian
lenyap meskipun masih mengendap menjadi sisa informasi di benak
kebanyakan masyarakat Indonesia yang kelak akan muncul kembali dengan
kisah yang barangkali lebih sedap dengan sedikit rasa pedas di lidah
yang membuat merah muka.
Kemunculan kisah harta karun Soekarno
yang sempat menghebohkan itu memang membuat banyak orang yang
kecondongannya tamak menjadi ngiler. Darimana sumber asal kisah itu pun
masih simpang siur, tak ketahuan rimbanya. Mungkin salah satu makhluk
halus penghuni pulau Jawa yang membisikkan salah satu budaknya untuk
membisik-bisikkan tentang pusaka warisan bangsa Indonesia itu. Tapi apa
tepatnya Harta Pusaka warisan Soekarno itu? Tak ada satu pun ahli atau
pakar yang berminat menyibak misterinya karena tentunya takut di bilang
ketularan ketamakan atau di bilang dungu karena percaya pada bisikan
paranormal yang tak jelas ujung pangkalnya.
Saya justru tertarik
mengungkapkan Harta Peninggalan Soekarno itu bukan dari perspektif
perhartakarunan dengan gambaran emas, perak atau intan permata. Tapi
dari perspektif kesejarahan Bangsa Indonesia yang jejaknya telah
ditemukan oleh Sokarno di kawasan Bogor yang tidak lain adalah prasasti
Batu Tulis sebagai peninggalan masa lalu yang menyimpan sejarah bangsa
Indonesia dan erat kaitannya dengan transmisi pengetahuan yang saat ini
sudah sangat dikenal.
Gagasan saya mengaitkan harta karun
Soekarno dengan peninggalan sejarah di Batu Tulis saya ilhami dari
karakter Soekarno itu sendiri yang memadukan intelektualitas dan
kemampuan citarasanya yang tinggi tentang berbagai seni dan budaya di
tanah air. Benar, saya kemudian harus berasumsi bahwa ungkapan Harta
Karun Bangsa Indonesia sebenarnya dinyatakan oleh Soekarno sendiri
dengan suatu gaya pengungkapan metaforis puitis sebagai karakter dasar
beliau. Seseorang yang menguping ungkapan terselubung ini kemudian
mengira bahwa yang diungkapkan Soekarno adalah harta beneran berupa
emas, perak, atau berlian yang tersimpan di suatu tempat di Bogor,
bahkan ada yang mengatakannya tersimpan di suatu Bank di Swiss. Padahal
yang dimaksud Soekarno adalah peninggalan di Bogor yaitu Batu Tulis yang
menyimpan rahasia emas dan perak sebagai simbologi tentang sumber asal
Pengetahuan Tuhan yang telah dikenal semasa kerajaan Areuteun, bahkan
mungkin jauh sebelum era kerajaan Areueun maupun Taruma Negara.
Soekarno selain seorang yang teknis, paham ilmu rekayasa, ia pun dikenal
sebagai ahli kesenian. Bukan sekedar seni tari atau lukis, namun ia
adalah sastrawan yang paham benar ungkapan-ungkapan al-Qur’an, Injil,
Kitab Siwa-Budha maupun agama Hindu, dan kenal benar karya sastra lokal
(termasuk cerita daerah) maupun dunia. Sehingga gaya pengungkapannya
ketika berkaitan dengan suatu titik tolak entitas kebangsaan Indonesia
meniru ungkapan kitab-kitab agama dengan maksud-maksud terselubung.
Maksud terselubung itu berkaitan dengan kemampuan manusia idaman
Indonesia yang diimpikan Soekarno sebagai manusia yang mestinya cerdas,
berpengetahuan lahir maupun batin dengan butir-butir yang tercantum
dalam Pancasila. Singkatnya, impian Soekarno tentang Manusia Indonesia
di masa depan adalah “yang jenius sekaligus yang relijius” sebagai figur
diri Soekarno sendiri. Dengan menyelubungi rahasia titik tolak asal
usul pengetahuan Bangsa Indonesia itu, Soekarno menyodorkan suatu
teka-teki mistis “Harta Pusaka Indonesia” atau yang belakangan
dihebohkan sebagai “Harta Karun Peninggalan Soekarno”.
Pengungkapan demikian mempunyai tujuan. Tujuan utamanya adalah
melindungi Pusaka itu dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung
jawab. Bagi yang mempunyai kecondongan tamak dan serakah, pastilah akan
mengira kalau ungkapan terselubung itu berkaitan dengan emas, perak dan
intan berlian. Jadi, meskipun Soekarno tak pernah menyatakan Harta
Pusaka itu sebagai emas dan perak maupun berlian, perkiraan seperti itu
muncul belakangan dari orang-orang yang sempat mendengar atau menguping
ungkapan Soekarno dan menafsirkannya dengan ketamakan dan keserakahan
akan kemaruknya harta dunia. Dan umumnya manusia mengira demikian karena
selubung metaforis Soekarno memang hanya dapat dipahami oleh
orang-orang yang paham benar dengan karakteristik Soekarno sebagai
intelektual lahir dan batin yang membaca banyak buku teknis, sastra,
filsafat dan kenal karakteristik dasar seluruh ajaran agama yang ada di
Indonesia. Mereka yang tamak dan serakahpun terkecoh dan babak belur
dengan korban pertama seorang menteri yang mengaku dapat bisikan
paranormal.
Kalau kita lebih jernih menelusuri sejarah hidup
Soekarno, sebenarnya menjadi jelas kalau ungkapan Harta Pusaka Soekarno
berkaitan dengan JEJAK SEJARAH MANUSIA INDONESIA yang jejak-jejaknya
tertera di prasasti-prasasti yang ditemukan di seluruh wilayah
Indonesia. Salah satu yang tertua adalah prasasti Batu Tulis yang ada di
Wilayah Bogor yang sampai hari ini menurut perbincangan arkeolog di
situs menyimpan misteri yang belum terpecahkan yaitu misteri TULISAN
IKAL. Mengenai tulisan ikal sebenarnya sudah saya singgung di risalah
Sangkan Paraning Dumadi : Mengintip Fajar Pulau Jawa dalam cacatan
sejarah telah dikenal oleh Cina melalui tulisan pendeta Budha Fa Hsien
yang terdampar di “Ya-wa-di” dan tinggal di situ selama 5 bulan setelah
berlayar selama 90 hari dari Srilangka menuju Kanton pada tahun 414 M.
Menurut catatan Fa-Hsien, belum ada pemeluk agama Budha yang ada adalah
pendeta Brahmana, jadi saat itu agama Hindu telah ada di Kawasan Jawa
atau Javadvipa.
Kontak resmi Cina dengan Ja-wa secara resmi
dimulai di zaman Dinasti Sung (420-479 M) yang pada tahun 435 M menerima
utusan Ja-wa-da atau Jawa Dwipa yang diperintah oleh Sri
Pa-da-do-a-la-mo. Yang membawa sepucuk surat dan upeti. Negara asal dari
utusan raja Jawa Kuno itu seringkali disebut sebagai Holotan yang
diidentifikasikan oleh Prof. Slamet Muljana sebagai Areuteun kerajaan
tertua di Jawa Barat sebelum masa Taruma. Bahkan kerajaan Holotan ini
bisa dikatakan sebagai kerajaan tertua di Jawa, lebih tua dari “Ho-ling”
atau Keling di lembah sungai Brantas Jawa Timur. Utusan kerajaan
Tarumanegara atau menurut teks Cina To-Lo-Mo datang ke Cina pertama kali
pada tahun 528 M, sekitar 100 tahun setelah utusan pertama kerajaan
Holotan atau Areuteun tadi. Hubungan Cina dengan Tarumanegara terus
berlanjut sampai Tarumanegara ditumbangkan Kerajaan Sriwijaya pada tahun
686 M. Arus peradaban dan pelayaran pun bergeser ke Sriwijaya di
Sumatra dan Holing atau Keling di Jawa Timur.
Jawa Barat
merupakan pusat keramaian yang tertua yang tercatat oleh sejarah di
Indonesia. Wilayah kerajaan tertua itu diidentifikasi oleh Profesor
Slamet Mulyana sebagai Areuteun di muara sungai Ciliwung. Tidak banyak
informasi yang tersedia mengenai kerajaan Areuteun yang muncul sekitar
tahun 414 M di Jawa Barat sebelum kerajaan Galuh Pakuan pada tahun 686
M. Catatan tentang kerajaan ini diperoleh dari Fa-Hsien seorang Buddha
yang terdampar di Jawa dan prasasti Ciareuteun. Namun, sedikitnya
sejarawan Indonesia seperti Prof. Slamet Muljana pernah mengulas tentang
kerajaan ini yang bukunya sampai hari ini belum saya temukan di toko
buku. Jadi, memang sulit sekali seperti aja wajah kerajaan Areuteun ini
yang muncul sekitar 272 tahun sebelum galuh Pakuan dengan nama rajanya
yang disebut dalam catatan raja-raja Cina sebagai Holotan.
Di
Internet topik “Areuteun” atau “Ciareuteun” ditemukan di suatu situs
yang nyaris menjadi situs purba sesuai namanya karena nampaknya
aktivitas anggotanya sangat rendah, situs itu adalah situs yang rupanya
dikelola oleh mahasiswa arkeologi UI. Diskusi tentang Ciareuteun
ditemukan sebagai suatu topik yang cukup hangat dibawah sub-judul
“Hindu-Budha Archeology” meskipun nampaknya diskusi itu tidak berlanjut.
Kutipannya secara ringkas tentang Areuteun antara lain menjelaskan
beberapa prasasti yang ditemukan di Kawasan Jabodetabek.
Dalam
suatu topik posting yang dipicu oleh nickname “Manchu Pichu” disebutkan
bahwa di daerah Ciampea ada beberapa prasasti. Lahan tempat
prasasti-prasasti ini ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan
datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun.
Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara.
Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah
Kecamatan Cibungbulang.
Transkrip diskusi yang dapat ditemui di
situs saya lampirkan (berhubung forum di situs tsb mendadak ditutup,jadi
saya copy pastekan saja transripnya):
apakah ada yang tahu
dimana letaknya prasasti jambu, yaitu prasasti tapak kaki
purnawarman…bukan yg di ciaruten..katanya didaerah leuwiliang di bukit
koleangkak. tapi orang di daerah leuwiliang tidak ada yg tahu. thx b4
Adapun Prasasti yang di temukan di Sungai Ciareuteun adalah TAPAK KAKI
MANUSIA (PURNAWARMAN ) DENGAN DUA JENIS TULISAN, YAITU SANSEKERTA DAN
‘IKAL’ SERTA BEBERAPA GAMBAR SEPERTI LABA-LABA. Kedua prasasti ini
letaknya tidak berjauhan dengan jarak lebih kurang 300 m (mohon
dikoreksi). Jadi yang dimaksud prasasti Jambu adalah prasasti Tapak Kaki
Gajah. Disebut Prasasti Jambu, karene letaknya yang berada di Desa
Jambu.
Kemudian, di muara sungai (pertemuan dua sungai) Cianteun
(mohon dikoreksi) juga ada Prasasti dengan HURUF IKAL. Letaknya masih
berada di Sungai (sebagian batu tempat prasasti dipahatkan terendam air
sungai), sedangkan prasasti Ciereuteun sudah dipindahkan lebih kurang 70
m ke dataran yang lebih tinggi (sekarang berada di dalam cungkup).
Jarak kedua prasati ini lebih kurang 500 m (mohon dikoreksi).
Semoga ini bisa membantu (juga koreksi untuk posting ismanujev sebelumnya)
Didaerah Ciampea ada beberapa prasasti. Lahan tempat prasasti-prasasti
ini ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga
batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19,
tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk
bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan
Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak
Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang
bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai
abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil
perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk
mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti pada
zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan
perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model
aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman
ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya
sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.
Prasasti-prasati itu antara lain:
Prasasti Pasir Muara
Prasasti ini ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari
prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak
berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :
ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda
Terjemahannya menurut Bosch:
Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji
(panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja
Sunda.
Karena angka tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti
ketentuan “angkanam vamato gatih” (angka dibaca dari kanan), maka
prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi (catatan
penulis: nabi Muhammad lahir tahun 571 M).
Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun Museum Sejarah Jakarta
Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus
meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada
tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini
peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya
adalah puisi empat baris, yang berbunyi:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam
Terjemahannya menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini
kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman
penguasa Tarumanagara.
Selain itu, ada pula gambar sepasang
“pandatala” (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan fungsinya
seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti
Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan
kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II,
sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa
pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir
Muhara.
Prasasti Telapak Gajah
Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
Terjemahannya:
Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti
Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara
Indra dewa perang dan penguasa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i
Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama
Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga,
bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di
atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman
berukiran sepasang lebah (an-Nahl).
Ukiran bendera dan sepasang
lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah
memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai
makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai
ini oleh para ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum
terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran
sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang
labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan
bulan) *asy Syams-al-Qamar). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang
bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang “bhramara” (lebah) sebagai cap
pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber
sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada
prasasti Ciaruteun.
Prasasti lain
Di daerah Bogor, masih
ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan
Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir
Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai)
Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi
keterangan berbentuk puisi dua baris:
Shriman data kertajnyo
narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma
pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam
arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati
sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahannya menurut Vogel:
Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada
taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju
perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya;
kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil
menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan
(kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi
musuh-musuhnya.
Salah satu misteri yang belum diungkapkan dari
temuan prasasti Ciareuteun di Jawa Barat yang menarik perhatian saya
adalah tulisan atau simbol yang disebut huruf ikal. Saya kemudian
melakukan posting yang berkaitan dengan tulisan Ikal dan prasasti
Ciareuteun dari Jabar sehubungan dengan simbol-simbol Indra, Petir,
Gajah, Teratai, Laba-laba dan Lebah yang tertera pada prasasti yg di
temukan di Jabar.
Saya secara teknis akademis bukan arkeolog ,
tetapi melihat topik diskusi yang berkaitan dengan Tulisan Ikal dan
Prasasti Ciareuteun dari Jabar yang berlaitan dengan simbol-simbol
Indra, Petir, Gajah, Teratai, Laba-laba dan Lebah yang tertera pada
prasasti yg di temukan di Jawa Barat.
Sebenarnya saya mempunyai
suatu spekulasi yang muncul dari kemungkinan historis adanya transmisi
pengetahuan dari wilayah India, Jawa, ke Mediterania, dan akhirnya
berujung kembali di wilayah asalnya yaitu Aleksandria tempat dimana
Perpustakaan Terlengkap di Dunia pernah Berdiri dan 9 pemikir Agung
menekuni sains. Khususnya berkaitan dengan simbol-simbol agama Siwa
Budha dan Islam yaitu simbol Asy Syams (Matahari), Petir (Ar Rad),
al-Qamar (Bulan), Lebah (an-Nahl), laba-laba dan Gajah sebagai
tunggangan Dewa Indra (Raa, atau Matahari), Bunga Sidrath atau Lotus
Tree dengan simbol-simbol dari Mesir.
(tambahan saya: Jadi, gajah
tunggangan Dewa Indra sejatinya simbolisme Ganesha atau Gajah sebagai
lambang ilmu pengetahuan dimana dua gading gajah menunjukkan makna ilmu
pengetahuan bagai gading yang mudah retak dan siapapunyang tak mampu
menjaganya akan dililit oleh belalai Si Gajah sebagai suatu ungkapan
simbolik metaforik bahwa ilmu pengetahuan adalah netral, baik dan
buruknya tergantung pada manusia yang mengimplementasikannya)
Transkrip tulisan ikal itu mungkin bukan tulisan tetapi simbologi Indra
Maya sebagai realitas The matrix yang menjadi asal usul penulisan
seluruh sistem huruf-huruf yang ada di dunia khususnya sistem dengan 5,
20 (jawa), 22 (Phoenicia), 26(Latin), dan 28 huruf (hiajiah) (saya tak
tahu jumlah huruf Sansekerta). Jadi boleh jadi huruf palawa, sansekerta,
jawa atau tulisan di Kawasan Asia juga sama asal usulnya dengan simbol
dasar tulisan yang muncul di Mediterania khusunya Phoenicia, Aramaik,
Yunani, Arab, Hebrew dan lain-lainnya.
Konsep dasar Indra Maya adalah teori Bilangan Euclids yaitu bilangan sempurna 6=1+2+3 dengan pemodelan 9696 :
9 adalah simbol realitas yang tercitra di akal pikiran,
6 adalah bayangan realitas di retina mata manusia,
9 adalah tampilan fenomena realitas benda-benda di bawah naungan sinar matahari,
6 adalah simbol kelahiran Sang Waktu alias Matahari itu Sendiri sebagai Indra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar